Rabu, Desember 07, 2011

0
UNICORN

UNICORN
Selintas yang muncul dibenakku adalah seekor kuda perkasa dengan sebuah tanduk runcing menyerupai cula dikeningnya. Sangat anggun dan kekar. Tapi kenyataan kali ini lain. Berbeda sekali dengan yang saat ini dihadapi oleh istriku. Mendengarnya seolah membuat hati berhenti berdegup. Hanya air mata yang sanggup mendengarnya. 

Iya, aku menikahinya tahun 2009 lalu. Dengan perasaan bahagia dan bangga, kuucapkan syahadat saat itu. 041209 menjadi tanggal yang berkesan buatku. Selama tahun - tahun ini dia mendampingi dalam suka duka. Seorang istri yang setia, yang dengan ikhlasnya melayaniku. Hingga sebuah vonis dari seorang dokter padanya membuatku tersadar. Aku teramat mencintainya. 

Malam itu, ia begitu bersemangat untuk pergi periksa ke dokter spesialis kandungan. Maklum saja kami sedang merencanakan untuk memiliki momongan. Meski baru 2 tahun, kami sangat merasa kesepian tanpa kehadiran suara tangis bayi dirumah. 
"Bang, ayolah.. Bersiap. Kita kan mau periksa. Kita antrian nomor 8 lho.. " begitu semangatnya dia mengajakku.
"Iya, abang juga tinggal ganti baju kok. Semangat benar sih.." godaku.
"Emang abang gak semangat ya", selidiknya sambil bergurau.

Kupacu sepeda motorku. Jalanan Pekanbaru masih ramai karena masih jam delapan malam. Sampai di prakter dokter itu (Jalan Melur), ia langsung daftar ulang di meja registration. Prakter dokter ini teramat ramai malam ini. Tua muda, dari yang berpasangan hingga seorang Ibu hamil separuh baya.

Nomor Delapan, begitu kami dipanggil. Kami langsung bangkit, menuju keruangan dokter. Adek gugup bang ucap istriku. Aku menyemangatinya, sambil tersenyum kugandeng ia masuk ruangan dokter spesialis itu. Hasil dari Laboratorium klinik kemaren kami berikan kepada dokter perempuan itu. Setelah diam sesaat, tiba-tiba si dokter berkata "Saya tidak sanggup membantu kalian, ini tidak akan bisa hamil. Hanya Tuhan yang bisa membantu kalian!. Glek, aku terdiam, kaget setengah mati, gak menyangka si dokter yang punya etika ini bicara langsung begitu. Istriku shock, diremasnya genggaman tangannya padaku. Matanya berkaca-kaca. Ingin rasanya kumaki dokter perempuan ini, tapi hati kecilku melarangnya.

Aku mencoba bicara, bagaimana dengan program bayi tabung Bu? Dia pun menjawab ketus dan memandang dengan tidak nyaman, percuma. Ini adalah UNICORNUATE UTERUS(UTERUS UNICORNIS) Yaitu rahim yang mempunyai 1 “tanduk”sehingga bentuknya seperti pisang. Sekitar 65% wanita memiliki kelainan jenis rahim ini yang mempunyai semacam tanduk “kedua” yang lebih kecil. Terkadang”tanduk”kecil ini berhubungan dengan rahim dan vagina tetapi yang sering terjadi adalah terisolasi dan tidak berhubungan dengan keduanya. Kalian tidak akan bisa mendapatkan keturunan kecuali dengan keajaiban Tuhan. Jawabnya. 

Aku terdiam lagi, tidak ada yang salah dengan perkataannya, tapi cara penyampaian seorang dokter kepada pasien tidak seperti ini. Ini begitu menyinggung perasaan kami. Akhirnya kami mengalah untuk memutuskan pulang. Ketika kutanyakan berapa biayanya?, si dokter ini mengatakan tarif, Rp. 80.000,- dengan entengnya, padahal hanya sekedar membacakan hasi uji lab dan mengatakan kejujuran kalau istriku tidak akan bisa hamil kecuali dengan mengharap keajaiban Tuhan. Semoga si dokter tidak menyakiti perasaan pasien2 lain dengan kelakuannya ini.

Sepanjang jalan istriku sesenggukan, keramaian jalan kota Pekanbaru tak membuatnya terhibur. Hingga dirumah, aku tetap menghiburnya. Kucoba menguatkan hatinya, Kita kan terus bersama sayang, sampai ajal memisahkan kita. Kita bisa adopsi atau kita rawat keponakanmu.

Apakah istriku akan bisa hamil? Apakah seorang dengan kelainan UNICORNUATE UTERUS(UTERUS UNICORNIS) bisa hamil? Aku hanya bisa berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala, semoga Allah mengabulkan pintaku.

*update, kini kami sudah memasuki tahun kelima pernikahan. Istriku belum juga hamil. Keponakan yang dulu kurawat sudah hampir berusia 5 tahun sekarang. Dulu dia kurawat dari umur 2 tahun. Aku sebenarnya tak begitu terbebani dengan hal ini, namun sebagai seorang suami, perasaan untuk punya anak kandung itu juga pasti pernah datang.


Rabu, Desember 08, 2010

0
AIRA

Jarum jam menunjukkan pukul 9.30 Wib. “Sebentar lagi istirahat pertama, aku sudah tak betah berada dikelas ini, aku harus pulang. Aku bosan” gerutuku dalam hati.
Lima belas menit kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Aku segera berkemas, memasukkan satu-satunya buku tulisku kedalam tas ransel bututku. Hiruk pikuk para siswa terdengar riuh. Secepatnya ku melangkah dengan memegang tali tas ranselku. Kucoba berbaur dengan para siswa yang berebut keluar dari lorong kelas menuju kantin. Aku tak perduli dengan pandangan teman-teman yang menggeleng-gelengkan kepala melihatku.
“Ups, ada Pak Sugiro.” Guru olahraga yang begitu sentimen padaku. Guru olahraga yang selalu ingin menangkap basah murid yang pembolos sepertiku. Dia sangat gemar menjemur murid-murid dilapangan dan menghormat bendera. Secepatnya aku menyusup masuk ke kelas XI IPA disebelahku dan langsung duduk seraya pura-pura mencari sesuatu didalam tas ku. “Untunglah, dia tak melihatku.” Pikirku.
“Hey, awas. Aku mau lewat.” Suara seorang gadis dari sebelahku.
“Oh, maaf. Silahkan” ucapku seraya berdiri. Amboy.. manis sekali gadis ini, wajahnya imut dengan lesung pipi yang menggemaskan. Gerutuku dalam hati terpesona.
“Bengong pula!, Awasssss!!!” hardiknya.
“Kalau mau bolos, bolos aja sana. Gak usah lihat-lihat wajahku. Emang aku pisang??. Kenapa? Naksir? Sorry ya, aku sudah punya suami!” Ucapnya galak.
“Hah? Suami?” Tanyaku.
“Pokoknya awas!!”, katanya seraya mendorong tubuhku.
“Uh, galak amat!, tapi masa bodoh lah, yang penting aku harus cepat pergi dari sekolah ini”. Kemudian kubergegas menuju belakang kelas XI IPA. Melompat dan hup, kakiku dengan mantap bertumpu pada meja bekas yang sengaja ditaruh anak-anak lain untuk membantu memanjat tembok sekolah ini. Tanganku meraih atas tembok, berpegangan pada tiang kawat berduri diatasnya. Ah, sudah aman sekarang tinggal lompat keluar dan aku sudah berada dipinggir jalan belakang sekolahku. Sebaiknya aku beranjak pulang. Ayah dan Ibu selalu sibuk, pasti gak ada dirumah. Kakakku kuliah di Bogor. Adikku?, ah gampang.. Tinggal diintimidasi saja.. He he he.
_&_
Hari ini aku bolos lagi, tapi aku tak segera pulang. Setelah berganti pakaian dengan kaos oblongku, kusempatkan jalan-jalan ke mall bersama teman-teman yang lain. Disana aku merasa bosan, aku pamit pisah dari teman-teman yang sibuk memilih komik di toko buku . Segera ku menuju game zone dilantai atas. Kuisi card memberku dan mulai asyik bermain House of the death. Saat asyik main, tak sengaja ku menoleh kearah sepasang kekasih yang nampaknya sedang bertengkar, “Hey, bukannya itu gadis yang di XI IPA kemarin? Sedang dia disini? Dia gak sekolah?, terus cowok itu, Amrin?” Aku penasaran. Aku segera menghentikan gamenya, kumendekat kearah mereka. “Lho? Kok gadis itu ditinggal begitu saja?, hey.. dia menangis” selidikku.
“Sorry. Kamu anak SMU 1 kan? Kenapa? Boleh aku duduk?” selidikku.
Dia tak menjawab, hanya sesenggukan sembari menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
“Maaf, kalau kamu tak keberatan, gimana kalau aku traktir makan di foodcourt. Siapa tau sedihmu bisa hilang”, bujukku.
.
Dia mengangguk, dengan tersenyum beranjak dan menuju foodcourt. Ia mengikutiku dari belakang. Setelah memilih meja yang agak tersembunyi, aku memesan menu yang ada. Dia juga melakukan hal yang sama
“Kamu gak sekolah?” kuberanikan bertanya. Dia menggeleng.
“Sama, aku juga bolos” ucapku sambil cengengesan sembari menyeruput es cendol pesananku.
“Nama kamu siapa sih?, kita satu sekolah kan?” tanyaku lagi.
“Aira” jawabnya. Masih nampak kesedihan diwajahnya.
“Aku Wahyu” balasku sambil minum es cendolku lagi.
“Aku tahu. Anak kelas III IPS 1 yang berjulukan si Lao kan?” jawabnya sembari bertanya.
“Lho, kamu sudah tahu aku toh?” ucapku malu.
“Kamu kan sering bolos lewat belakang kelasku. Lagian siapa sih yang gak kenal Lao di SMA 1?. Anak badung yang sering distrap menghormat bendera, sering dihukum membersihkan toilet di sekolah, hobby merokok di kantin. Seenaknya kalo lewat dari depan orang.” Ucapnya membuat telingaku merah.
“Oh, syukurlah kalo kamu tahu. Tapi kamu gak takut padaku kan?” tanyaku.
“Sebenarnya sih iya, tapi aku ragu. Aku yakin kamu bermaksud baik. Aku heran, kamu kok gak dikeluarkan dari sekolah seperti teman-temanmu yang lain?” tanyanya padaku.
“Hmm, gak tau juga ya. Mungkin Bu Kepsek jatuh hati padaku”. Ucapku asal.
Dia tersedak, kemudian meraih air mineral diatas meja. Lantas dia tertawa. Sumringah sekali. Sepertinya dia telah melupakan kejadian sebelumnnya.
“Kamu kok ada disini?” selidikku pura-pura.
“Kamu kan lihat alasannya” jawabnya.
“Ketemuan dengan cowokmu? Si Amrin itu cowok kamu ya?. Kok bertengkar?” selidikku.
Dia tak menjawab, tangan mungilnya hanya mempermainkan cery yang ada digelasnya.
“Maaf, kalo aku ikut campur” sergahku kemudian.
“Gak masalah kok. Iya, bang Amrin memang cowokku. Dia egois. Dia selingkuh, aku melihatnya dan ia tidak mengakuinya” ucapnya kemudian.
“Kamu kok doyan bolos sih?, kamu gak takut kalo gagal UAN?” di bertanya seolah ingin mengalihkan pembicaraan.
“Aku malas. Membosankan. Kalo memang tak lulus ya sudah. Aku kursus mekanik saja” ucapku.
“Kamu boleh jadi temanku” ucapnya sembari tersenyum ketika mendengar jawabanku.
Kali ini aku yang tersedak. “Uhuk, apa?. Gak salah dengar?, bukannya kamu tahu kalo disekolah tak ada murid cewek yang mau berteman denganku? Tanyaku.
“Apa salahnya?, kamu baik walau badung” jawabnya membuatku terbengong.
____________&&&______________
Hup, aku kembali meloncat untuk meraih tembok sekolah. Saat hendak naik, tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.
“Mau kemana?, Boleh aku ikut?” ternyata si Aira yang membuatku kembali turun.
“Gak. Kamu belajar aja sana. Biar pintar” jawabku
“Emang kamu gak ingin pintar?”
“Gak perlu. Aku gak ingin”
“Kamu mau gak temani aku ke kantin?”
“Sekarang?”
“Iya, Aku mau traktir kamu. Bukannya kemarin kamu sudah menghiburku dan mentraktirku? Aku mau balas. Kamu gak boleh nolak.” Jawabnya
“Besok aja deh, aku mau pulang.”
“Sekarang aja, yuk!” Dia menarik tanganku. Aku hanya diam. Seperti kerbau dicucuk hidung, aku menurut.
Kantin teramat ramai. Mata para siswa mendelik melihatku ditarik seorang siswi cantik.
“Bik. Mie ayamnya dua ya plus teh esnya” pesan Aira kepada bibi pemilik kantin.
“Ehm, mau kemana kamu Wahyu?, kenapa kamu bawa-bawa tas kamu? Pasti kamu mau membolos lagi kan?” tiba-tiba Pak Sugiro sudah ada dikantin.
“Nggak kok Pak. Bang Wahyu tadi pagi nitip tasnya sama Saya, dia sudah berubah kok Pak. Bang Wahyu gak akan pernah bolos lagi. Iya kan bang Wahyu?” jawab Aira yang membuatku terbata-bata menjawab.
“I.. iya Pak”
“Oh ya, baguslah. Saya akan lihat. Sejauh mana kamu mau berubah” kata Pak Sugiro sembari memandangi kami berdua dan berlalu pergi.
“Hey, kamu, akhh..” gerutuku
---&&&----
Sebulan sudah berlalu, hari-hariku mulai berubah. Aira membuatku berjanji untuk tidak membolos. Setiap ingin membolos, Aira pasti mencegatku dilorong. Sepertinya ia tahu kemana aku pergi. Setiap kali kepergok, ia akan mengajakku ke kantin. Kalo aku tak mau, ia pasti merengek untuk minta ditemani. “Aku ingin curhat” katanya setiap kutanya.
Pernah suatu hari ku berontak, membentaknya dan hampir saja membuatnya menangis. Wajahnya yang kukagumi itu membuatku tak berdaya bila tiba-tiba berubah mendung. Jelas sudah, perlahan tapi pasti akupun mulai rajin belajar. Aku tak kuasa menolak ajakannya untuk belajar ketika ia menelponku sehabis magrib. Aneh.
____$$$___
Hari ini gerah sekali. Dimana Aira? Biasanya ia pasti menungguku pulang sekolah. Kali ini kok tidak? “Mungkin ia pulang duluan, siapa tau ada keperluan mendesak” pikirku
“Hey, itu dia. Dia dan Amrin. Mereka bertengkar lagi. “Astaga, Amrin menampar Aira” Tak bisa kubiarkan, kubergegas menuju kearah mereka.
“Jangan ikut campur Lao, ini bukan urusanmu!” bentak Amrin padaku.
“Oh ya, begitu? Aku tak suka kalo kamu menampar Aira” Jawabku lantang
“Sok jagoan kamu” ucap Amrin dan langsung melayangkan tinjunya kebibirku. Bibirku berdarah dan tentu saja membuat emosiku naik kelevel teratas. Tanpa bicara kubalas pukulannya, bertubi-tubi kuhantam wajah dan perutnya. Aira berteriak histeris. Aku tak perduli bagai orang kesetanan kuhajar si Amrin. Amrin nampak tak berdaya melawanku. Wajahnya babak belur, sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah. Suatu ketika, tanganku meraih batu dari tanah dan... Tanganku ditangkap seseorang, ternyata Pak Sugiro. Ia dan murid-murid melerai kami. Hampir seluruh murid satu sekolahan manyaksikan perkelahian kami.
“Wahyu, hentikan!!. Kamu sok jagoan ya? Kamu mau jadi pembunuh?” bentak Pak Sugiro.
Aku membisu, mataku hanya memandangi seragam putih biruku yang berlumuran darah. Sementara anak-anak membawa Amrin ke UKS.
Seminggu sudah aku diskors. Tragedi itu membuat pihak sekolah memanggil orangtuaku. Hari ini hari Senin, Ayah dan Aku diminta Kepala Sekolah untuk menghadap. Dikantornya sudah ada Aira, Amrin dan Ayahnya, Pak Sugiro dan Guru BP.
“Silahkan masuk Wahyu. Sekarang kamu salam Amrin. Minta maaflah. Dia sudah memaafkan kamu.” Ucap Bu Kepsek.
Kuulurkan tanganku dan disambut oleh Amrin. Wajahnya tersenyum meski perban masih menghiasi batang hidung dan wajahnya.
“Wahyu, kami tahu kamu bermaksud baik. Tapi perbuatan kamu itu tidak bisa dibiarkan. Tak boleh ada menghakimi sendiri disekolah ini. Apalagi catatan kenakalanmu sudah teramat banyak” ucap Bu Kepsek.
“Tapi, Bu..”
“Tidak, Wahyu. Kami tidak akan mentolerir hal seperti itu. Kami tidak akan mengeluarkanmu. Aira sudah menceritakan semuanya. Dan Wali kelasmu juga memberi kesempatan padamu. Kamu dan Amrin sudah menjalani hukuman. Sekarang Kamu dan Aira silahkan masuk kelas. Biar Amrin dan Orangtua kalian musyawarah dengan Saya” Ucap Bu Kepsek.
“Terima Kasih Bu” Ucapku sambil bergegas keluar sembari mengangguk pada Ayah yang tersenyum padaku.
“Bang, makasih ya” ucap Aira padaku ketika berjalan dilorong.
Aku hanya tersenyum padanya.
“Gak nyangka abang sadis banget, aku jadi takut. Jangan seperti itu lagi ya, Aira gak rela kalo abang menyakiti orang” rengeknya
Aku hanya menggeleng, seolah menjawab aku tak akan mengulanginya.
Tiba-tiba Aira mencium pipiku, kemudian dia berlari mendahuluiku. Sambil berjalan mundur, ia berkata “I Love You, tunggu aku nanti di kantin ya..” Lesung pipinya nampak jelas sekali. Dan ia bergegas masuk kelasnya.
Aku terpaku, menyentuh pipiku yang baru saja diciumnya. Tak perduli pada murid-murid didekatku, aku berucap “ I Love You too Aira, ya aku pasti datang kekantin nanti”.
The End

Cerita ini hanya fiksi, tokoh dan sekolah didalamnya hanya inspirasi penulis yang kebetulan bersekolah disana. ^_^
Sabtu, Desember 04, 2010

0
Arti Lambang Recycle Segitiga Pada Plastik

Tanda segitiga (recycle) yg biasanya ada di botol-botol plastik, baik minuman plastik biasa, shampo, botol bayi dan lain-lain, di sini akan dijelaskan arti dari simbol tersebut, efek samping dan dampaknya


1. PET — Polyethylene Terephthalate

Biasanya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 1 di tengahnya dan tulisan PETE atau PET (polyethylene terephthalate). Biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol Jenis PET/PETE ini direkomendasikan HANYA SEKALI PAKAI,kenapa?Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker).
Di dalam membuat PET, menggunakan bahan yang disebut dengan antimoni trioksida, yang berbahaya bagi para pekerja yang berhubungan dengan pengolahan ataupun daur ulangnya, karena antimoni trioksida masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan, yaitu akibat menghirup debu yang mengandung senyawa tersebut.
Terkontaminasinya senyawa ini dalam periode yang lama akan mengalami: iritasi kulit dan saluran pernafasan. Bagi pekerja wanita, senyawa ini meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran, pun bila melahirkan, anak mereka kemungkinan besar akan mengalami pertumbuhan yang lambat hingga usia 12 bulan.

2. HDPE — High Density Polyethylene

Umumnya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density polyethylene) di bawah segitiga.
Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain.
HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya.
HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi.
Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.

3. V — Polyvinyl Chloride

Tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta tulisan V — V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling sulit didaur ulang.
Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol.
PVC mengandung DEHA yang dapat bereaksi dengan makanan yang dikemas dengan plastik berbahan PVC ini saat bersentuhan langsung dengan makanan tersebut karena DEHA ini lumer pada suhu -15oC.
Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya).

4. LDPE — Low Density Polyethylene


Tertera logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE
– LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.

Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen.
Plastik ini dapat didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.

5. PP — Polypropylene


Tertera logo daur ulang dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP – PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik, terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi.
Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap
Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6 . PS — Polystyrene

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS – PS (polystyrene) ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman, secara tidak sengaja.
PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain.
Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.
Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung.
Bahan ini harus dihindari, karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.
Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga.
7.Other


khususplastik dengan kode 1, 3, 6, dan 7 ( polycarbonate), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Ini tidah berarti bahwa plastik dengan kode yang lain secara utuh aman, namun perlu dipelajari lebih jauh lagi. Maka, jika kita harus menggunakan plastik, akan lebih aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5, dan 7 (kecuali polycarbonate) bila memungkinkan. Bila tidak ada kode plastik pada kemasan tersebut, atau bila tipe plastik tidak jelas (misalnya pada kode 7, di mana tidak selamanya berupa polycarbonate), cara terbaik yang paling aman adalah menghubungi produsennya dan menanyakan mereka tentang tipe plastik yang digunakan untuk membuat produk tersebut.

1. Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan polycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene, atau polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
2. Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.
3. Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan segera dihabiskan karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan alternatif yang dapat digunakan adalah botol stainless steel atau kaca.
4. Cegahlah memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik, khususnya pada microwave oven, yang dapat mengakibatkan zat kimia yang terdapat pada plastik tersebut terlepas dan bereaksi dengan makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat terjadi bila kemasan plastik digunakan untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak.
5. Bungkuslah terlebih dahulu makanan dengan daun pisang atau kertas sebelum dibungkus dengan plastik pembungkus ketika akan dipanaskan di microwave oven.
6. Cobalah untuk menggunakan kemasan berbahan kain untuk membawa sayuran, makanan, ataupun belanjaan dan gunakanlah kemasan berbahan stainless steel atau kaca untuk menyimpan makanan atau minuman
7. Cegah penggunaan piring dan alat makan plastik untuk masakan. Gunakanlah alat makan berbahan stainless steel, kaca, keramik, dan kayu.
8. Terapkan, sebarkan dan ajaklah setiap orang di lingkungan rumah, kantor, sekolah, kampus, dan di manapun untuk mengetahui informasi ini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari


Disadur dari  kaskus.us









 

0
Bulan Di Atas Air

“ Hari ini… dimalam dingin
Bulan itu masih bersinar,
Dan kilaunya membasuh bisu
Di keheningan, aku masih ragu.”

Kembali kutulis sebait puisi, aku sadari kalau aku hanya mampu mengungkapkan semua ini hanya pada lembaran kertas, hanya mampu menorehkannya. Aku begitu berani memujanya lewat goresan penaku. Lain dengan kenyataan yang sesungguhnya, aku yang hanya mampu memandangnya, tak punya keberanian untuk ucapkan cintaku padanya. Akh.. aku ragu, aku takut kalau aku hanya akan di tertawai, apalagi kalau sampai ditolak mentah-mentah, duh..malunya.
“ Wei..Wei, Ngapain lagi sich masih pake corat-coret puisi juga?, gak zaman lagi.” Kata Awin meleburkan konsentrasiku yang lagi nulis puisi di tepi kolam ikan lele dumbo di depan kost-kosan kami.
“ Ah..nggak, Cuma nyalurin hobby, siapa bilang puisi gak zaman?, puisi itu karya seni tau!” jawabku sambil memandang pantulan bulan di kolam.
“ Wei, kita sudah dua tahun satu kost, sekamar lagi. Aku sudah lama mengenalmu. Puisi kamu yang ini lain. Puisi yang tak pernah terucap, puisi yang hanya mampu memandang. Puisi yang selalu berontak untuk keraguan, tapi tak mampu kamu ucapin. Sudahlah…, ucapin aja lagi. Apa susahnya sich nembak cewek?” ceramahnya kemudian.
Aku tak menjawab. Aku akui, semua itu benar. Rasanya aku bagai pecundang yang hanya berani pada lembaran-lembaran kertas.
---------------------$$$-------------------------
Malam kembali datang, sama seperti malam-malam sebelumnya. Sehabis mandi, aku berpakaian rapi, pakai parfum Kenjo kesukaanku, dan bersiap-siap ke kost Anggi. Sang bulan di atas air yang kupuja selama ini.
“ Mau kemana, Wei?, ngapelin Anggi nih?” goda Awin.
“ Iya nih, kangen.” Jawabku asal.
“ Wei, apa Anggi tau kalau kamu suka dia?” tanya Awin lagi.
Sesaat aku terdiam, kemudian kugelengkan kepala seraya masih  memperhatikan wajahku di depan cermin.
“ Sampai kapan sich kamu jadi pemuja rahasia gitu?. Aneh..!, kalau soal mata kuliah, kamu jagonya. Selalu dapat A, minimal B plus. Tapi kok sama seorang Anggi saja kamu jadi lembek gitu?” tanya Awin lagi.
“ Entahlah Win, aku nggak mampu. Aku takut persahabatan kami hancur karena semua ini.” Jawabku.
“ Terus..kamu sanggup melihat Anggi jadi milik orang?, tanya Awin juga.
Aku menggeleng. “Aku tak pernah memikirkan sampai sejauh itu.” Jawabku.
“ Lha.., kok Anggi nggak kamu tembak aja?” balas Awin.
“ Nggak lah Win. Biarlah cinta itu abadi di celah hatiku.”  Jawabku pula.
“ Alah.. sok puitis kamu. Cinta itu seperti mata air. Nggak kan pernah bisa kamu tutupi. “ imbuh Awin lagi.
“ Ah, biarlah. Yuk, aku pergi dulu !” sergahku
“ Eh, kamu pulangnya jam sembilan kan ?’, aku nitip pecel lele ya. Pakai uang kamu dulu. Entar malam aku ganti dech.” Kata Awin.
“ Oke, masih ada yang lain?” tanya ku lagi.
“ Iya, kamu tembak aja tuh si Anggi.” Jawab Awin.
“ That’s not your busines bro,” balasku.
Awin hanya menggeleng dan tersenyum. Awin teman satu jurusanku, satu kamar bahkan satu daerah denganku. Aku tahu kalau ia bermaksud baik.
---------------------$$$-------------------------
Tak banyak yang kulakukan di kost Anggi. Mendengarkan ia curhat, cerita, dan sekedar bercanda. Meski begitu aku betah berlama-lama disana hingga pukul sembilan malam. Kemudian pulang. Begitulah setiap harinya.
“ Nih..pecel lele mu.” Ucapku seraya menyodorkannya pada Awin.
“ Ini dia.., nih uangnya.” Kata Awin.
“ Win, aku pecundang ya?” tanyaku pada Awin yang asyik makan pecel lele.
“ Siapa bilang?” tanya Awin.
“ Aku. Aku kan nggak berani bilang perasaanku pada Anggi. “ jawabku.
“ Wei, kalau kamu nggak mau dibilang pecundang, udah…kamu tembak aja tuh si Anggi. Gampang kan?” jawab Awin lagi.
“ Gampang gundulmu. Aku gak sanggup.”
“Sampai kapan, Wei?, kamu kok rendah diri gitu sich?. Cuma tinggal bilang, “Anggi.. , aku suka kamu !, apa payahnya??”
-------------000000--------------
Malam semakin larut, Awin sudah nyenyak dengan mimpi indahnya. Aku, sedikitpun belum merasa ngantuk. Kembali ku ambil binderku. Menulis sebuah puisi untuk Anggi, sambil memandangi pantulan bayangan bulan di kolam.
Bulan di atas air,
saat malam meninggi..
aku yang memandangmu,
dibayangan air.. tak mampu menengadah ke atas
Hanya sebait puisi lagi, selebihnya aku lebih banyak melamun. Bicara sendiri kepada bayangan bulan putih di kolam. Tersenyum sendiri, menyebut nama Anggi. Anggian Arkha Ayunda.
Esoknya, sepulang dari kampus. Kusempatkan ke toko buku Gramedia yang tidak begitu jauh dari kampusku. Mencari sebuah buku cinta. “Tips jitu buat nembak cewek”. Setelah membayar di kasir, aku ngeloyor pergi. Aku sudah putuskan untuk nembak Anggi malam ini. Latihan tadi malam rasanya sudah cukup bagiku. Aku akan buktikan kalau Vikhla Arweidi bukan seorang pecundang yang hanya mampu ucapkan cinta pada lembaran kertas. Tekadku sudah bulat.
Malamnya, seperti biasanya, setelah mandi dan memakai kemeja distro kesayanganku, nyemprotin parfumku, aroma yang disukai Anggi.
“ Ehem, ehem. Ke tempat Anggi lagi nih?” goda Awin.
“ Iya Win.” Jawabku semangat.
“ Eits, semangat bener. Rencananya, mo nembak?” tanya Awin lagi.
“ Kayaknya iya nih. Memang sepantasnya kalau aku harus ungkapin semuanya ma Anggi.” Jawabku.
“ Nah..gitu dong!, oke deh bos, ane dukung deh. Pokoknya kamu harus Pe-de. Kalau kita emang punya tujuan baik cewek pasti mau. Kalau bisa, pegang tangannya. Tatap matanya, ucapin dengan tulus. Percayalah. Good luck, okey..” dukung Awin.
Sebelum ngeloyor pergi, kusempatkan memandang sang bulan di pantulan air kolam. Kemudian memandang ke atas langit.” Bulan putih.. tungggulah.” Ucapku dalam hati.
Tak sampai lima belas menit, aku sudah nyampai di tempat kostnya Anggi. Memanggilnya dan ia keluar. Dalam hatiku, kuucapin basmalah sesering mungkin. Wow..ia begitu cantik malam ini. Riasan wajahnya yang alami berpadu dengan gaun biru yang di pakainya. Tapi sepertinya ia mau pergi.
“ Mau kemana Nggi?, tumben pake gaun gini. Cantik banget.” Pujiku.
“ Masa’ sih?, makasih... Anggi mau pergi ma Dawa. Dia ngajak ke pesta sepupunya. Sekalian makan malam disana.” Jawab Anggi.
“ Dawa?, Dawa Alfian?” tanyaku gak percaya. Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak.
“ Iya. Dawa. Teman satu jurusan kamu. Eh, sorry ya Wei. Anggi gak bisa nemenin  kamu malam ini. Panggil Suci aja. Dia ada di dalam kok.” Kata Anggi.
“ Ah.. Nggak masalah kok. Aku juga mo ke Gramedia nih. Rencananya mau ngajakin kamu tadinya. Tapi gak papa deh.. aku sendirian aja.” Jawabku berbohong sambil menyembunyikan perih yang mulai merambat dihatiku, yang mulai mencekal irama jantungku.
Tak lama kemudian, sebuah sedan BMW metalik masuk ke halaman kosannya Anggi. Itu mobil Dawa. Teman sejurusanku yang terkenal tajir.
“ Hei, Arweidi. Kamu disini ya..ngapain?” tanya Dawa padaku.
“ Ah..biasa. Aku sering main disini kok. Daripada sendirian di kost.” Jawabku menyembunyikan kecemburuanku.
“ Kamu sich.. kelamaan tuh jomblonya. Ya, okeylah ini mau ngajak Anggi makan malam. Yok Nggi..” kata Dawa sambil ngajak Anggi yang memang udah bersiap-siap pergi.
Aku hanya bisa menahan nafas saat Dawa menggenggam tangan Anggi. Apalagi saat Dawa membukakan pintu mobil buat Anggi. Romantis sekali.. "Duh Tuhan, aku tak sanggup lagi..".
Setelah mereka pergi, aku memutuskan untuk pulang. Aku tak menyangka semua ini terjadi. Aku benar-benar kecewa. Persiapan untuk mengutarakan perasaaanku selama ini hancur total. Aku benar-benar jadi pecundang. Dengan gontai aku melangkah. Aku cepat-cepat pulang.
Di rumah, Awin belum pulang. Nampaknya ia juga ngapelin Wita, pacarnya. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Semua ini begitu perih. Rasanya cuman aku sendiri yang paling menderita di dunia ini. Kuambil lagi notebook tempat kutuangkan semua perasaanku pada Anggi. Kembali kubuat sebuah puisi di tepi kolam lele di depan kostku.
Bulan di atas air,
Saat air pasang yang kuharap,
Sinarmu yang ku damba jadi milikku.
Tapi, kali ini aku terhenyak,
Gumpalan awan menutupi sinarmu.
Tak ada pantulan lagi,
Hingga malam tenggelam “
Seiring dengan selesainya puisi itu. Kupandangi bulan di langit yang memang tertutup awan gelap. Sinarnya redup. Sepertinya bulan memang tak mau lagi membagi sinarnya denganku. Kuletakkan notebook di tanganku ke atas air kolam. Perlahan notebook itu tenggelam. Tenggelam bersama seribu puisi dan keindahan yang pernah kuimpikan. Tenggelam bersama luka yang hanya bisa kurasakan sendiri.

                                                     Pekanbaru, 29 November 2006
                                                     Buat Sahabatku, “ Maafkan aku”http://www.facebook.com/notes.php?id=1626700363&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=466128196810
 
LOCKERWHY | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog